Langsung ke konten utama
Stella MarisIndonesia

Akan Hadiri Seminar Stella Maris Batam, Wahyu Susilo dari Migrant CARE

Bagikan:
Wahyu Susilo
Wahyu Susilo, Migran CARE
Adik Aktivis Wiji Thukul ini akan membahas perlindungan pekerja migran dan kerentanan ABK/AKP dalam Seminar Internasional Stella Maris Batam

Persoalan pekerja migran bukan hanya tentang keberangkatan dan kesempatan bekerja di luar negeri. Di balik mobilitas tenaga kerja terdapat persoalan hak, keselamatan, perlindungan, eksploitasi, perdagangan orang, hingga tanggung jawab negara dalam memastikan setiap pekerja dapat bekerja dengan bermartabat.

Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE akan menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan Stella Maris Batam pada Minggu, 20 September 2026 di Pacific Palace Hotel, Batam.

Mengangkat tema “Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur”, seminar ini secara khusus akan membahas berbagai persoalan pekerja migran maritim, termasuk Anak Buah Kapal (ABK) dan Awak Kapal Perikanan (AKP).

Migrant CARE dan perjuangan perlindungan pekerja migran

Migrant CARE merupakan organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam advokasi perlindungan dan pemenuhan hak pekerja migran Indonesia. Organisasi ini juga menyediakan pendampingan kasus bagi pekerja migran dan anggota keluarganya.

Dalam berbagai advokasinya, Migrant CARE menyoroti pentingnya tata kelola migrasi yang berorientasi pada perlindungan hak pekerja. Dalam pernyataan Hari Pekerja Migran Sedunia 2025, Migrant CARE antara lain menyoroti persoalan tumpang tindih kewenangan, miskordinasi dan ego sektoral antarkementerian/lembaga, serta kerentanan pekerja di sektor tertentu, termasuk awak kapal perikanan dan korban kerja paksa maupun perdagangan orang.

Persoalan tersebut memiliki relevansi kuat dengan agenda Stella Maris Batam yang dalam seminar ini ingin membuka ruang dialog mengenai tata kelola perekrutan dan penempatan ABK/AKP, struktur biaya, perlindungan pekerja, serta pencegahan eksploitasi dan perdagangan orang.

Wahyu Susilo dan jejak perjuangan Wiji Thukul

Nama Wahyu Susilo juga memiliki kisah personal yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan hak asasi manusia di Indonesia. Ia adalah adik kandung Wiji Thukul, penyair dan aktivis pro-demokrasi yang hilang pada 1998 dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Wiji Thukul dikenal melalui karya-karya puisinya yang menyuarakan kehidupan rakyat kecil, ketidakadilan dan penindasan. Ia aktif dalam gerakan masyarakat dan buruh, serta mengalami berbagai bentuk tekanan akibat aktivitasnya. KontraS mencatat bahwa Wiji Thukul dinyatakan hilang pada 1998 dalam konteks meningkatnya operasi represif terhadap aktivitas politik yang berseberangan dengan rezim Orde Baru.

Membawa perspektif masyarakat sipil ke isu ABK dan AKP

Dalam seminar Stella Maris Batam, Wahyu Susilo diharapkan membawa perspektif masyarakat sipil mengenai bagaimana sistem migrasi dan ketenagakerjaan dapat memberikan perlindungan yang lebih kuat kepada pekerja.*

Artikel Terkait

Komentar (0)

Masuk atau daftar untuk ikut berkomentar.

Ada Pertanyaan Lain?

Diskusikan bersama sesama awak kapal, pekerja migran, dan tim Stella Maris di forum Komunitas kami.

Buka Forum Komunitas →