
Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur
Lebih dari 80 persen perdagangan barang dunia berdasarkan volume diangkut melalui laut. Di balik arus perdagangan yang menghubungkan negara-negara dan menggerakkan perekonomian global tersebut, terdapat jutaan pekerja maritim yang bekerja di atas kapal, jauh dari keluarga dan lingkungan sosialnya. Mereka memastikan rantai pasok dunia tetap bergerak, sekaligus menghadapi berbagai risiko pekerjaan di laut, mulai dari kondisi cuaca dan keselamatan kerja hingga keterpisahan dari keluarga.
Karena itu, persoalan migrasi tidak dapat dipisahkan dari persoalan martabat, keselamatan, hak dan perlindungan pekerja. Hal tersebut menjadi perhatian Stella Maris Batam dalam penyelenggaraan Seminar Internasional dan Misa Hari Minggu Migran dan Pengungsi 2026, yang akan dilaksanakan pada Minggu, 20 September 2026 di Pacific Palace Hotel, Batam.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112 Tahun 2026, yang secara universal diperingati pada 27 September 2026. Pesan Paus Leo XIV untuk tahun ini mengangkat tema “Even Just One of These Children”, dengan perhatian khusus pada anak-anak yang terlibat dalam pengalaman migrasi dan pengungsian.
Di tingkat lokal, Stella Maris Batam mengangkat tema “Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur” sebagai ajakan untuk melihat migrasi bukan semata-mata sebagai persoalan mobilitas tenaga kerja, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang menyangkut kehidupan, keluarga, hak, keselamatan dan masa depan manusia.
ABK dan AKP menjadi perhatian khusus
Salah satu fokus utama seminar adalah kondisi Anak Buah Kapal (ABK) dan Awak Kapal Perikanan (AKP) yang bekerja lintas wilayah dan negara.
Pekerja maritim memiliki posisi yang sangat strategis dalam perekonomian, tetapi pada saat yang sama menghadapi karakteristik kerentanan yang khas. Mereka dapat berhadapan dengan proses perekrutan yang kompleks, keterbatasan akses terhadap informasi, persoalan kontrak kerja, biaya perekrutan dan penempatan, serta risiko eksploitasi dan perdagangan orang.
Stella Maris Batam memandang bahwa upaya mewujudkan migrasi yang aman tidak cukup hanya dengan memastikan seseorang dapat berangkat bekerja secara legal. Migrasi yang aman juga harus memastikan proses perekrutan berlangsung transparan, biaya dapat dipertanggungjawabkan, kontrak dipahami pekerja, hak-hak pekerja dihormati, serta tersedia mekanisme perlindungan ketika terjadi persoalan.
Dari cost structure hingga Port Welfare Committee
Salah satu isu yang akan dibahas adalah cost structure dalam proses perekrutan dan penempatan pekerja maritim.
Biaya sertifikasi, pemeriksaan kesehatan, pelatihan, dokumen, perjalanan, administrasi dan berbagai kebutuhan lainnya dapat menjadi bagian dari keseluruhan biaya yang harus diperhitungkan dalam proses penempatan. Seminar akan mendiskusikan bagaimana struktur biaya tersebut dapat dibuat lebih transparan, efisien dan berkeadilan sehingga tidak menempatkan calon pekerja dalam posisi yang semakin rentan.
Selain itu, Stella Maris Batam akan membawa gagasan mengenai Port Welfare Committee sebagai salah satu kemungkinan mekanisme koordinasi lintas pemangku kepentingan di Batam.
“Kami ingin melihat pekerja migran maritim bukan hanya sebagai bagian dari industri, tetapi pertama-tama sebagai manusia yang memiliki martabat. Mereka bekerja jauh dari keluarga dan berkontribusi terhadap kehidupan ekonomi kita. Karena itu, sistem yang mengatur mereka harus mampu memberikan kepastian, perlindungan dan ruang untuk mendapatkan pertolongan ketika menghadapi persoalan,” ujar Romo Yance; Ansensius Guntur, Direktur Stella Maris Batam.
Sebagai Keynote Speaker, seminar direncanakan menghadirkan Drs. Mukhtarudin, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, serta Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Pangkalpinang. Forum juga akan menghadirkan Mgr. Siprianus Hormat, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau (KKP-PMP) KWI.
Diskusi panel akan menghadirkan perspektif dari berbagai sektor, antara lain Jessica Sparks dari Tufts University, Amerika Serikat; Rinardi dari KP2MI, Yulius Setiarto dari DPR RI; Albert Yosua Bonasahat dari ILO Indonesia; Shafira Ayunindya dari IOM Indonesia; Ilyas Pangestu dari SPPI; Hengky Wijaya dari Asosiasi Agen Perekrut; Wahyu Susilo dari Migrant CARE, Romo Chrisanctus Paschalis dari KKPPMP Keuskupan Pangkalpinang, Romo Ansensius Guntur CS dari Stella Maris; serta perwakilan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada seminar. Stella Maris Batam juga akan menyelenggarakan Misa Hari Minggu Migran dan Pengungsi 2026, yang akan dipimpin oleh Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Pangkalpinang, bersama Mgr. Siprianus Hormat serta para imam di Kevikepan Kepri.
"Peserta diperkirakan 1500 orang terdiri dari berbagai latar belakang; serikat pekerja, migran, keluarga pelaut, organisasi lintas iman, aktivis kemanusiaan, para pekerja asing yang ada di Batam, dan masih banyak lagi..." kata Cosmas Eko Suharyanto, Ketua Panitia kegiatan tahun ini.*

Artikel Terkait
Komentar (0)
Ada Pertanyaan Lain?
Diskusikan bersama sesama awak kapal, pekerja migran, dan tim Stella Maris di forum Komunitas kami.
Buka Forum Komunitas →



