Gereja Dipanggil Menjadi “Jembatan Kasih” bagi Dunia Maritim, Tegas RP Marius Rewa, CS

Dunia maritim bukan hanya ruang perdagangan dan transportasi global, tetapi juga ruang perutusan Gereja untuk menghadirkan kasih Kristus kepada para pelaut dan keluarga mereka. Pesan tersebut disampaikan RP Marius Rewa, CS, Imam Kongregasi Misionaris Santo Karolus (Scalabrinian), dalam Seminar Hari Pelaut Sedunia 2026 yang diselenggarakan Stella Maris Batam dengan tema “Menjembatani Samudra: Merawat Kedekatan Keluarga di Era Maritim Digital”, Kamis (2/7).
Dalam materi bertajuk “Panggilan Gereja bagi Dunia Maritim dalam Semangat Scalabrinian”, Pater Marius mengajak peserta melihat bahwa kehidupan para pelaut tidak hanya membutuhkan perlindungan hukum dan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga pendampingan rohani yang mampu menguatkan mereka menghadapi mobilitas tinggi, tekanan pekerjaan, keterpisahan dari keluarga, dan keterbatasan akses terhadap pelayanan iman.
“Dunia maritim adalah ruang pastoral. Di sanalah Gereja dipanggil untuk hadir membawa kasih Kristus kepada mereka yang hidup dan bekerja di laut,” ungkapnya.
Pater Marius menjelaskan bahwa perhatian Gereja terhadap komunitas maritim telah berkembang selama lebih dari satu abad. Ia menguraikan perjalanan sejarah pelayanan pastoral maritim, mulai dari perhatian Paus Pius X pada tahun 1914, lahirnya gerakan Apostleship of the Sea di Glasgow pada tahun 1920, hingga berkembang menjadi karya pastoral Gereja universal yang kini dikenal dengan nama Stella Maris. Pelayanan tersebut secara resmi mencakup pelaut, nelayan, pekerja pelabuhan, awak kapal pesiar, mahasiswa pelayaran, hingga keluarga mereka. Bahkan pada tahun 2025, Paus Leo XIV kembali meneguhkan Stella Maris sebagai badan pusat dan koordinator pelayanan pastoral maritim Gereja Katolik di dunia.
Menurutnya, pelayanan Stella Maris bukan sekadar memberikan bantuan sosial, melainkan menghadirkan Gereja yang benar-benar turun ke lapangan.
“Pelayanan itu diwujudkan dengan mengunjungi kapal, mendengarkan kisah para pelaut, merayakan sakramen, memberikan pendampingan rohani, hingga menemani keluarga mereka yang menanggung kerinduan di rumah,” jelasnya.
Dalam sesi berikutnya, Pater Marius memperkenalkan karisma Scalabrinian, spiritualitas yang lahir dari teladan Santo Yohanes Baptista Scalabrini (1839–1905). Pendiri Kongregasi Misionaris Santo Karolus itu dikenal sebagai “Bapa Para Migran” karena dedikasinya mendampingi para migran dan pengungsi. Bagi Scalabrini, mobilitas manusia merupakan salah satu “tanda zaman” yang harus dijawab Gereja dengan membangun persaudaraan universal.
Pater Marius menilai bahwa karisma tersebut sangat relevan bagi Batam, yang merupakan salah satu gerbang maritim internasional Indonesia. Setiap hari banyak pelaut dari berbagai negara singgah di Batam, sementara tidak sedikit keluarga pelaut yang menetap di kota ini harus menjalani kehidupan dengan anggota keluarga yang bekerja berbulan-bulan di laut.
Karena itu, Batam memiliki peluang besar untuk mengembangkan pelayanan pastoral maritim yang lebih luas melalui karya Stella Maris Batam. Bentuk pelayanannya meliputi kunjungan ke kapal (ship visitation), pelayanan sakramen, pendampingan rohani, konseling, bantuan kemanusiaan dalam situasi darurat, advokasi bagi pelaut yang mengalami eksploitasi, pendampingan keluarga pelaut, hingga kerja sama dengan otoritas pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan organisasi internasional.
Lebih jauh, Pater Marius mengajak seluruh paroki untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan ini. Menurutnya, paroki perlu menjadi “rumah kedua” bagi para pelaut dan keluarga mereka dengan membangun komunitas iman yang mampu saling menopang.
Beberapa langkah konkret yang ia tawarkan antara lain penyelenggaraan Misa Hari Pelaut Sedunia, pertemuan rutin dan rekoleksi bagi keluarga pelaut, pendalaman Kitab Suci bertema keluarga dan mobilitas, pendampingan anak-anak pelaut, serta kunjungan bersama Stella Maris kepada kapal-kapal asing yang bersandar di Batam.
Menutup presentasinya, Pater Marius mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi digital, hubungan antarmanusia tetap membutuhkan kasih yang nyata.
“Teknologi digital dapat mempercepat komunikasi jarak jauh, namun hanya kasih yang mampu memelihara persekutuan hati.”
Karena itu, ia mengajak seluruh Gereja untuk menjadi “jembatan kasih” yang menghubungkan pelaut, keluarga, komunitas iman, dan masyarakat maritim dengan Kristus. Semangat tersebut diwujudkan melalui empat pilar pelayanan, yakni berdoa bersama, peduli bersama, melayani bersama, dan berjalan bersama, sehingga tidak ada pelaut maupun keluarganya yang merasa berjalan sendirian dalam menghadapi tantangan kehidupan maritim.

