Infrastruktur Digital dan Literasi Keuangan Jadi Kunci Ketahanan Keluarga Pelaut

Kemajuan teknologi digital telah membuka peluang baru bagi keluarga pelaut untuk tetap terhubung meskipun dipisahkan oleh ribuan mil lautan. Namun, tanpa dibarengi literasi digital dan pengelolaan keuangan yang baik, teknologi juga dapat menghadirkan berbagai risiko baru. Pesan tersebut disampaikan Marco Lau Santosa, Founder & CEO Naremax Studio, dalam Seminar Hari Pelaut Sedunia 2026 yang diselenggarakan Stella Maris Batam, Kamis (2/7).
Mengangkat tema “Navigasi Keluarga Pelaut: Infrastruktur Digital dan Literasi Keuangan”, Marco menjelaskan bahwa kehidupan keluarga pelaut memiliki karakteristik yang berbeda dengan profesi lainnya. Jarak yang jauh, keterbatasan akses internet saat berada di laut, serta pola pendapatan berdasarkan kontrak kerja membuat keluarga pelaut memerlukan strategi komunikasi dan pengelolaan keuangan yang lebih matang.
“Teknologi kini menjadi jembatan yang menghubungkan pelaut dengan keluarga di rumah. Namun jembatan itu harus dibangun di atas fondasi komunikasi yang baik dan pengelolaan keuangan yang sehat,” ujarnya.
Menurut Marco, salah satu tantangan utama yang dihadapi pelaut adalah akses komunikasi yang masih terbatas selama berada di tengah laut. Di sisi lain, sistem penghasilan yang bergantung pada kontrak kerja menyebabkan pemasukan keluarga sering kali tidak bersifat tetap. Kondisi tersebut menuntut keluarga pelaut memiliki kemampuan mengatur keuangan untuk menghadapi masa ketika pelaut belum kembali memperoleh kontrak pelayaran.
Ia mengibaratkan hubungan antara komunikasi dan keuangan seperti kemudi dan mesin sebuah kapal. Keduanya harus berjalan seimbang agar keluarga dapat mencapai tujuan dengan selamat.
“Komunikasi dan finansial ibarat kemudi dan mesin kapal. Tanpa komunikasi yang baik, fondasi finansial sekuat apa pun dapat runtuh karena salah paham atau salah mengelola,” jelasnya.
Marco juga memaparkan bagaimana infrastruktur digital telah membawa perubahan besar bagi kehidupan para pelaut. Kehadiran internet satelit memungkinkan komunikasi video dengan keluarga dari tengah samudra. Sementara itu, layanan perbankan digital dan remittance mempermudah pengiriman uang lintas negara hanya dalam hitungan menit. Digitalisasi administrasi kepelautan juga membuat berbagai layanan pemerintah menjadi lebih mudah diakses secara daring.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi digital juga menghadirkan ancaman baru. Penipuan berkedok agen pelayaran, pencurian data pribadi, serangan siber, investasi bodong, hingga pinjaman online ilegal menjadi risiko yang harus diwaspadai oleh para pelaut maupun keluarganya. Karena itu, Marco mengajak peserta menerapkan tiga langkah sederhana untuk menghindari penipuan digital, yakni melakukan verifikasi ganda terhadap setiap informasi, tidak mudah terpengaruh situasi yang mendesak, serta menjaga kerahasiaan data dan kredensial pribadi. Selain aspek keamanan digital, Marco juga menyoroti pentingnya literasi keuangan keluarga. Menurutnya, layanan keuangan digital memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan transaksi, akses investasi, pencatatan keuangan otomatis, hingga mendorong pertumbuhan usaha kecil. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga dapat memicu perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang disiplin. Ia menekankan bahwa kesejahteraan keluarga pelaut tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan yang diperoleh selama berlayar, melainkan oleh kemampuan keluarga mengelola pendapatan tersebut secara bijaksana.
“Kesejahteraan sejati keluarga pelaut tidak ditentukan oleh besarnya kiriman dana dari tengah samudra, melainkan seberapa bijaksana kita mengemudikannya di darat.” Tutup Marco.
Artikel Terkait

Stella Maris Batam Gelar Sharing Session Keprotokoleran, Bekali Relawan dan Pengurus dengan Tata Kelola Acara yang Profesional

Merawat Komunikasi, Menjaga Kedekatan: Riri Siti O. Malikah Soroti Tantangan Keluarga Pelaut dalam Mendidik Anak

Uskup Pangkalpinang Pimpin Misa Hari Pelaut Sedunia 2026 di Batam
