Merawat Komunikasi, Menjaga Kedekatan: Riri Siti O. Malikah Soroti Tantangan Keluarga Pelaut dalam Mendidik Anak

Keterpisahan fisik akibat profesi sebagai pelaut tidak seharusnya mengurangi kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Pesan itulah yang menjadi benang merah materi Riri Siti O. Malikah, Vice President of Services (Asia) di The Centre for Child Rights and Business, dalam Seminar Hari Pelaut Sedunia 2026 bertajuk “Menjembatani Samudra: Merawat Kedekatan Keluarga di Era Maritim Digital” yang diselenggarakan Stella Maris Batam, Kamis (2/7).
Membawakan materi “Merawat Komunikasi dengan Anak Kita (Tantangan Keluarga Pelaut)”, Riri mengajak para keluarga pelaut untuk melihat komunikasi sebagai kebutuhan mendasar anak yang sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi.
“Keberhasilan orang tua bukan hanya diukur dari seberapa keras mereka bekerja untuk keluarga, tetapi juga dari bagaimana mereka tetap hadir dalam kehidupan anak-anak, meskipun dipisahkan oleh lautan,” pesannya kepada peserta seminar.
Menurut Riri, setiap anak memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangannya. Bayi membutuhkan kehadiran dan respons yang penuh kasih terhadap setiap isyarat yang mereka berikan. Anak usia prasekolah membutuhkan ruang untuk bertanya dan berimajinasi. Anak usia sekolah memerlukan orang tua yang mau mendengarkan sebelum memberi nasihat, sedangkan remaja membutuhkan kepercayaan, ruang berekspresi, dan komunikasi yang terbuka.
Ia mengingatkan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar berbicara, tetapi dimulai dari kemampuan orang tua untuk mendengarkan secara aktif. Kontak mata, bahasa tubuh yang hangat, kesabaran, serta menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa menjadi kunci membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.
Riri juga menjelaskan pentingnya menggunakan pertanyaan terbuka dibandingkan pertanyaan yang hanya dapat dijawab “ya” atau “tidak”. Cara bertanya yang tepat akan membantu anak lebih berani mengungkapkan perasaan, pikiran, maupun kesulitan yang sedang mereka alami. Selain itu, orang tua dianjurkan untuk mengurangi kebiasaan menceramahi dan lebih banyak menunjukkan empati terhadap pengalaman anak.
Dalam konteks keluarga pelaut, Riri memberikan perhatian khusus pada masa sebelum keberangkatan dan saat kepulangan orang tua. Sebelum kembali berlayar, orang tua dianjurkan menjelaskan kepada anak mengapa mereka harus bekerja jauh dari rumah, menceritakan pekerjaan yang dilakukan, menyepakati cara berkomunikasi selama di laut, serta memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan kekhawatiran maupun harapannya. Sebaliknya, ketika kembali ke rumah, orang tua diharapkan memanfaatkan waktu secara berkualitas dengan meletakkan telepon genggam, mendengarkan cerita anak, menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, bermain bersama, dan membangun percakapan yang hangat.
Untuk memperkuat pesannya, Riri menampilkan kisah seorang remaja bernama Dinda yang menceritakan kerinduannya terhadap kehadiran orang tua yang sering bekerja. Kisah tersebut menggambarkan bahwa bagi seorang anak, hadiah terindah bukanlah barang bawaan dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk berkumpul, berbicara, dan makan bersama keluarga.
Sebagai organisasi yang telah lebih dari satu dekade mendampingi perusahaan global dalam mempromosikan hak-hak anak dan keluarga pekerja di berbagai negara, The Centre for Child Rights and Business menekankan bahwa perlindungan anak dimulai dari lingkungan keluarga yang mendukung. Empat hak dasar anak—hak untuk hidup, berkembang, berpartisipasi, dan mendapatkan perlindungan—perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di keluarga para pelaut.*
Artikel Terkait

Stella Maris Batam Gelar Sharing Session Keprotokoleran, Bekali Relawan dan Pengurus dengan Tata Kelola Acara yang Profesional

Infrastruktur Digital dan Literasi Keuangan Jadi Kunci Ketahanan Keluarga Pelaut

Uskup Pangkalpinang Pimpin Misa Hari Pelaut Sedunia 2026 di Batam
